Lalu lalang kendaraan
melintasi jalan raya yang kian hari semakin meretak, rapuh. Jalan raya tua yang
sudah tak dihiraukan lagi oleh pemerintah untuk diperbaiki. Konon katanya jalan
raya ini mempunyai sejarah yang buruk dan mengerikan. Banyak tragedi kecelakaan
dan berakhir kematian yang mengerikan, oleh sebab itu tak banyak khalayak yang
memilih untuk melewati jalan itu. Namun hal ini tidak berlaku bagi para
penikmat minuman berkafein. Ternyata tak sedikit dari mereka memilih untuk
melintasi jalan raya itu demi segelas atau bahkan seseruput minuman hitam yang
mengandung serbuk kopi itu. Entah kenikmatan apa yang membuat mereka rela antri
untuk mendapatkan semua itu. Apalagi saat putung- putung rokok berserakan di
setiap asbak yang terdapat di meja ruangan itu dan berbagai aroma tak sedap
yang seringkali membuat tak nyaman dan yang menjadikan tanda tanya besar bagiku
tentang kenikmatan apa yang di dapat hingga harus mengorbankan hidung dengan
udara tak sehat itu.
Kafe Semerbak, begitulah
orang-orang menyebutnya. Mungkin dari aroma- aroma yang tak bisa terdeteksi itu
yang menjadikan nama tersebut semakin tercium oleh semua kalangan baik dari
tingkat menengah kebawah sampai kalangan paling atas di seluruh penjuru Negara,
seolah tak ada yang tak mencium aroma semerbak kafe itu. Tak hanya itu, desas
desus yang membawa nama kafe itu pun selalu terdengar dari setiap lisan para
khalayak. Yah, tentunya itu yang menjadikan nama kafe ini semakin melejit.
Semakin hari tak dapat
celah lagi yang bisa kuintai dari lubang-lubang kecil terbuat dari semen di
sebelah tempat itu. Semakin banyak pendatang yang memadati bangunan klasik yang
dipenuhi kaca buram nan hitam. Kadang terbesit sebuah kenangan yang tragis
hingga aku berkali-kali menahan diriku untuk melakukan itu. Yah, keinginanku
hanya satu. Ingin memusnahkan semerbak itu. Semerbak yang tak lagi merusak
hidung, bahkan merusak otak dan hati para pendatang.
“Maria, cepat masuk rumah”