Thursday, 1 March 2018

Pengasuhan anak

"pengasuhan anak dengan orang tua dan orang lain itu hasilnya berbeda"

Semakin kesini semakin kupahami pahwa secara tidak langsung kalimat tersebut memang benar adanya. Aku memang bukan jurusan psikologi atau apapn yang berkenaan dengan jiwa seseorang. Hanya saja hidupku yang mengajari semua hal. Aku hanya ingn berbagi kepada kalian. Ah entahlah aku benar sedang mempelajari itu.

Aku hidup diantara anak-anak dengan latar belakang yang berbeda. Baik dari segi ekonomi maupun lingkungan. Aku ditakdirkan untuk mendampingi keseharian mereka. Kebetulan kali ini aku sedang memegang 39 anak dengan tingkat pendidikan yang berbeda pula.

Bisa dibayangkan gimana ngerumat anak orang segitu banyak? Gimana kalo sakit? Gimana kalo butuh ini dan itu? Gimana pas di sekolahnya? Hahaha. But, itu memang tidak untuk difikirkan tapi dijalani. Ketika Tuhan sedang menaruh kita di tempat tersebut, pasti Tuhan juga memberi kemampuan untuk kitanya. Begitu si kalo kata orang2 di sekelilingku. Hehe

Dari anak anak sejumlah tersebut, mereka memiliki cara berfikir yang beragam. Ada pula yang penurut, ada yang penuntut. Ada juga yang keras kepala tapi juga ada yang sabar. Dan well aku jamin bakal ada ditemukan di dunia ini dg semua karakter mereka di kamar. Hahaha alay

Hari ini aku hanya ingin berbagi. Bahwa memang peranan orang tua dalam mengasuh anak itu mempengaruhi sifat dan karakteristik anak. Maka tak salah jika pembentukan karakter anak itu dimulai dari orang tua. Ketika orang tua memberikan contoh yang baik pasti akan ikut baik, begitu sebaliknya.

Dan yang lebih berpengaruh lagi, cara berfikir anak. Aku taunya dari mereka yang diasuh sendiri oleh orang tua dengan anak yang dititipkan di nenek atau saudaranya apalagi ornag lain. Nyata banget perbedaannya.

Anak yang diasuh orang tua jauh lebih bisa diarahkan, lebih mudah untuk diajak bicara dan cenderung mudah memahami satu sama lain. Sedangkam yang diasuh oleh orang lain, cenderung "sak karepe dwe" susah diatur dan keras kepala. Bahkan dengan orang tuanya sendiri cenderung tidak manut.

Oiya ini pas masih kecilnya ya, masa baby sampai sd. Ketika anak selalu diberi perhatian dan kepercayaan yang baik, maka ke depannya kemungkinan besar dia akan menjadi baik pula. Ini hanya menurut penelitianku sendiri ya, sama temen2 yang lain senasib seperjuanganku. Dan hal itu dampak buruknya bisa mempengaruhi masa depan si anak.

So, buat kalian para calon ibu kalo punya anak diusahakan diasuh sendiri ya, kasihan anaknya juga apalagi kalai sampai kurang kasih sayang. Hehehe

Maafkan keberantakan bahasaku, sudah lama tak menulis heh see you next :D

Thursday, 9 November 2017

Perjalanan Hidup

'Selamat hari jumat'
Kini, aku sudah benar benar merasa kembali.
Kembali menyelami hidup yang semakin berarti
Kembali menemui keelokan perjalanan ilahi
Kembali menapaki serpihan rasa yang berarti

Pagi ini, memang aku merindumu
Namun aku lebih merinduNya
DiriNya cukup menenangkan kita.
Kadang berfikir bertemu kepadaNya mungkin indah,
Namun semakin kesini semakin ku mengerti
Bahwa semuaku tak cukup untuk tiket bertemu denganNya.

Aku pernah terpuruk akan rasa bukan?
Kau tau itu, dan meski kau tak mampu merasakan seperti adanya
Kau penawar kala itu,
Terimakasih pernah turut serta mewarnai kertas buram di hatiku,
Warnamu indah, tak seperti sebelummu.
Kali ini jauh lebih indah.
Namun juga belum kutemukan titik akhir.
Mungkin temu adalah penentu, apakah koma penjeda cerita atau titik pengusainya.

Kau tau,
Sedari kemarin banyak hal yang datang kepadaku.
Sosial, kemasyarakatan, pendidikan, keluarga dan banyak hal.
Dan bayangmu, masih terpaku di sini. Di palung hatiku.
Maaf, jika aku masih begini..

Kita memang tidak saling melupakan, tetapi tidak saling mengabari dan perlahan menghilang. 😊
Benar begitu bukan?

Wednesday, 27 September 2017

Belajar dari lubang dan tali


Belajar dari lubang dan tali
Selamat malam
Kali ini aku tak lagi menceritakan seseorang
Aku hanya akan menulis tentang apa yang terjadi hari ini
Sedari semalam keadaanku yang tak baik ternyata berdampak pada hariku, ya hari ini. Sedari pagi yang kacau, ya ternyata benar benar berantakan karena apa yang kurencanakan sebelumnya gagal total.
Mulanya aku berencana menyelesaikan bab 1 & 2 ku untuk bimbingan siang, nyatanya aku tak kuasa menyelesaikannya. Sedari tadi aku hanya menikmati kepiluan. Hahaha bodoh sekali telah menghabiskan waktu hanya untuk hati. Tapi memang begitulah adanya. Kedua, aku gagal menikmati pengalamanku di suatu sekolah yang ingin ku pelajari. Karena keadaanku yang kacau, bhkan aku tak lagi mampu memahami sms dari pihak sekola yang sebenarnya semua orang paham. Dan sayang sekali. Waktuku hri ini sungguh tidak bermanfaat. Ketiga, mulanya aku berencana untuk bertemu dengan rekan kantor tempatku berproses, gagal pula karena aku lupa dan terlanjur tak kuasa melangkah. Ah hariku sia sia lagi.

Aku kadang cemburu dengan mereka yang mampu menanggalkan keadaan tak baiknya untuk mlakukan hal yang bermanfaat. Ya, aku pernah begitu mampu, tapi entah tentang ini aku selalu begini.
Namun ada hal kecil yang barusaja aku selesaikan dan berhasil.
Coba tebak apa? Hahaha
Sebatas memasukkan tali jaket satu satunya milikku yang telah lama tersangkut. Ya, jaket ini. Jaket perjuangan, jaket kenangan, jaket kesederhanaan.
Hihihi
Aku terlalu menyayangkan jika ini dialumnikan, tapi memang nyatanya aku belum lagi kuasa untuk membeli jaket model apapun. Bukan tak mau, namun tak mampu.

Mulanya aku merasa tak mampu, kucoba memasukkan dengan jarum. Tapi yang ada aku semakin tertusuk berkali kali. Kemudian akhirnya aku melepasnya. Kupikir, hanya peniti yang bisa membantuku untuk memasukkannya, tapi aku terfikir lain dengan menali bagian ujung dg tali yg kecil. Tentunya agar muat masuk lobang dan ditarik ke ujung satunya.

Perjalanan panjang telah dimulai, kutarik pelan pelan. Sedi memang karena tidak segera selesai, karena menghabiskan waktuku yang banyak. Tapi dari situ aku belajar. Betapa hidup ini hrus dinikmati prosesnya. Betapa keadaan tidak selalu sesuai dengan pikiran kita. Betapa lelah menanto dan belajar untuk bersabar dalam menapakinya. Ya bagaimanapun otu adalah pelajaran bagiku. Karena sepenuhnya hari ini aku tak berhasil melaksanakan apa yang telah kurencanakan. Terlanjur lelah dengan diriku sendiri. Terlanjur kehilangan semangat hidup. Sungguh. Benar benar putus asa yang kurasakan sedari tadi.
Seperti pernah merasakan ini sebelumnya dengan keadaan yang berbeda. Dengan masa yang jauh lebih singkat daripada yang telah berjalan.

Jaket kenangan
Penuh perjuangan untuk mendapatkannya
Penuh kehangatan di setiap pemakaiannya
Penuh kenangan disetiap seratnya
Hihi, adapula kenangan lubang akobat rokok yang kala itu aku ngomel sekali.
Meski keadaannya yang tak lagi sempurnya, meski talinya yang tak sama, tapi aku masih sangat menyukainya.
Bukan apa apa, hanya aku belum mampu untuk menduakannya, jaket kesayanganku.
Hahaha
Hujan september,
Rabu, 27 september 2017
19.15 am

Tuesday, 26 September 2017

hari ini,

Hari ini aku belajar melepasmu
Semula aku penuh dengan cemburu
Membuta akanmu
Membisu denganmu
Menuli selainmu
Tak izinkan yang lain denganmu
Tapi hari ini aku belajar melepasmu
Membiarkan yang lain bersamamu,
Ya denganmu,
Kau yang penuh dengan kesempurnaan bagiku
Kau yang penuh dengan harapan besarku
Kau yang penuh dengan kenyamanan bagiku
Kau yang penuh dengan kedambaan semuaku
Yah, kau.
Kau yang kini mulai menempati masa laluku
Kau yang diamini oleh keluargaku
Kau yang..
Ah, aku sudah menghabiskan apapun yang ada dalam otakku
Aku menyayangimu lebih dari diriku
Dan begitulah kebodohanku,
Pendambamu bukan hanya aku,
Banyak sekali yang bahkan telah mampu menyamankanmu
Yang mampu mendekapmu lebih hangat daripadaku
Yang mampu menundukkan pandanganmu daripadaku
Yang mampu menguatkanmu dalam langkahmu daripadaku
Yang mampu membebaskanmu dari jeratan kasih sayangku
Aku tak mengapa, asal itu bahagia untukmu
Ya, aku tak mengapa tanpamu,
Mungkin memang kau bukan untukku

Jombang, 26 sept 2017
18.59 AM

Kau#part3

Sunday, 24 September 2017

Tentang kalian 😘


Jangan tanya mereka siapa πŸ˜† soalnya aku pasti akan jelasin semuanya. Hahaha

cobabtebak aku yang mana πŸ˜‚
Aku yang paling depan deh pokoknya. 
Hihi 
Selalu bahagia jika bersama mereka. πŸ˜†πŸ˜

Depanku namanya apin
Adek adek serasa semuran πŸ˜›
Paling gila diantara kita semua. Haha. Maafkan daku piin, 
bendahara kece yang gabisa nahan kalo diajak jalan. Tapi kalo udah nyangkut soal duit pondok, susah buat diajak kompromi. Sangat jeli dan terkendali. Hmm
jangan tanya soal pendidikan. Dia sudah lulus s1 hukum keluarga, dan sedang menempuh pasca sarjana di kampus dan jurusan yang searah. 
Jago bikin dunia kita hidup pokoknya, paling gokil dan ga jaiman. Hmm
Untuk lengkapnya tunggu edisi selanjutnya yaak. πŸ˜‚

Samping kiri aku namanya mamah hen. 
Do you know kenapa kita panggil mamah? Soalnya dia palingbtelaten diatara kita semua. Soal keuangan, apalagi soal bisnis kita, raissa florist. Pasti dia yang harus megang uangnya, kalo ga gitu ambuar kena kita bertiga. Hihi

Dia sama kek aku, ga lanjut pasca tapi lebih banyak acara dan berbeda jauh denganku. Hihi. Hoby macak dan jago macakin. Bayangin coba, kita pas mau wisuda selain nyari duit semalaman melek buat garap order bunga, dia paginya langsung macak i kita semua. Kalo ga hobi dan kesenangan pasti ogah banget dah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ 
Meski paginya pas acara wisuda kita bobok cantik di deretan kursi wisudawan. Hahaha maafkan kami pak dosen.. πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜… sekarang sudah mulai move on dari masalalu kelamnya dan merajut tali kasih dengan gus sebelah. Hihi. Semoga jodoh ya mah, biar ga gegana lagi kek aku. Huwaaahh πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ

Next, our koordinator ketjhe. Aida or badul. Dia dokter cinta abal abalannya aku. Hahaha. Pas lagi gegana gegana masalah hati, dia yang lurusin. Hemm biasa berkutat soal hati dan perasaan. Hwhaaha piss dul. Dia sama kek apin, sedang menapaki tahap pasca, Teges dan pinter. Tapi kadang ketularan gila kayak kita2. Whahaha. Dan sejak terjebak cinta dengan penulis jagoan, dia jadi turut menggila sasrta. Ups. Semoga jodoh sama pak guru yaak duul πŸ˜πŸ˜‹  tapi jangan nikah duluin aku. Wkwk 

terimakasih telah menemaniku, menapaki detik detik kehidupan dengan sejuta doa dan harapan. Terimakasih atas kegilaan kita selama ini. Jangan waras dulu ya sampe bener2 kuat menapaki langkah selanjutnya. Sayang kaliaaan 😍😘😚



Friday, 22 September 2017

Pecinta pemilik ilmu

Siang ini aku barusaja bertemu dengan beliau, dosen favoritku. Hhhaha
Bukan karena apa, karena beliau benar- benar membuatku kagum. Cerdas dan ulet. Hafidz dan dosen s2 di kampusku. Hwahaha. Im pround of you pak mas 😍
"ojo wedi, podo menungsone. Sing penting sinau" begitu beliau mengajariku selama membimbingku dalam menyelesaikan skripsiku. Dan sekarang sedang menempung jenjang s3.
Ah bapaak, 😍😍😍

Entah apa yang membuatku tenang ketika melihat beliau. Ilmunya seabrek tapi masih saja terlihat sederhana. Istrinya spesial mengurus rumah tangga dan mengajar pengajian anak anak di rumahnya. Dan beliau mengajar di almamaternya dulu dan menyimak hafalan santri pondok lamanya. Dan sebagai dosen di kampusku. Beliau dikarunia dua putra yang keduanya terlihat mengikuti jejak ayahnya.
Terlihat sekali, sopan santun antara keluarga tersebut, sepertinya sedari kecil mereka (red. Pak dosen dan istri) selalu mengajari bertata krama dengan sesamanya. Tutur katanya santun dan sopan. Tidak jarang menggunakan bahasa krama sebagaimana orangtua bertutur. Pun ketika  pak dosen bersama dengan mahasiswanya, sesekali berbahasa krama,

ah entah aku sedang sangat terkesima dengan kehidupan beliau. Yang kufikirkan hanya satu, bagaimana perjuangan mereka ketika membentuk anak yang demikian? Dan keliarga yang terlihat sangat menghargai satu sama lain.

Teringat ketika istri pak dosen bercerita tentang beliau, (red.pak dosen). Setiap kali pak dosen mendapat ilmu baru, beliau akan berbagi dengan istrinya. Tak ayal, jika tanpa sekolah s2 pun sang istri dapat menikmati keluasan ilmu melalui suaminya. Bolehlah jika mendambakan keluarga yang demikian 😆😆

Saya merawat anak anak, suami belajar dan bekerja. Jika ada yang baru diketahui, suami berbagi kepada istri. Dududuh, mulai ngantuk kali, mulai mengigau kemana mana 😂😂
Sudah dulu ya guys, kapan kapan kalo ketemu beliau aku ceritain lagi. Hihi

Wednesday, 20 September 2017

Aku dan hujan bulan juni


Bulan juni memang mengesankan. Dimana aku dilahirkan di dunia, dimana aku dihadirkan oleh sang Ilahi untuk menemui orang orang tersayang. Ayah ibu adik saudara kekuarga. Dan teman teman yang datang dan pergi sesuai dengan ceritaNya. Aku terlahir di bulan juni, itulah mengapa aku begitu terkesan ketika seorang penulis favorit menuliskan cerita di bulan juni. Makasii bapak sapardi, rasanya aku ingin menjadi pingkan untuk bertemu dengan sarwono yang sangat mengagumkan. Aku juga ingin menikmati kisah cinta yang tentram sebagaimana kisah mereka, ah sayang belum tuntas pingkan dan sarwononya.. 
Pingkan dan sarwono. Sepasang kekasih yang saling menjaga hati. Saling menguatkam satu sama lain. Ah, yang paling kusuka saat sarwono mengingat kalimat pingkan. "jangan cengeng sar" dengan nada khas dan sangat kokoh bertahan di benak sarwono. Ah, aku suka. Entah sampai detik ini kubaca berkali kali pun aku masih suka tersipu. Hihi alay dikit laah.. Ini pernggalan kalimat yang kusuka, sangat kusuka.
Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar saputangan yang telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang. Bagaimana mungkin.
Hujan bulan juni -
Sapardi djoko damono
Pengen pingkan melipat jarak tapi belum kuat beli. Hahaha
Mau banget kok kalo ada yang beliin 

Jeritan hati anak manusia

Hari ini ada seorang anak yang membuntutiku. Seperti biasa, pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan. Ada apa nak? Sapaku. Lalu dia mengambil posisi untuk duduk di dekatku, tak lama kemudian ia mulai bercerita.

Mulanya ia hanya ingin mengeluhkan tentang keadaannya, namun kemudian merambat kepada keluarganya. Ya orang tua.

Aku sejenak menyayangkan ketika orang tua ayah ibu saling tidak memperhatikan anaknya ketika terjadi cek cok diantara mereka. Bagiku memang seperti cenderung egois. Memikirkan diri mereka sendiri. Ah, maaf jika ini terlalu menjugje orangtua atau sok dan bagaimana. Karena disini aku benar benar duduk di posisi pendengar mereka. Anak anak korban pertengkaran orang tua yang tak bersalah.

Dia seketika menangis saat aku mulai menyimak ceritanya. Dia anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya bekerja yang hanya pulang dua minggu sekali, sedangkan sang ibu mengisi waktu luang dengan menjual barang via online.

Ketika masih menduduki tingkat SD, sebut saja dinda. Dinda seringkali menangis saat mendapati ayah ibunya bertengkar di hadapannya. Tepat. Bahkan beberapa tindakan yang tidak layak untuk dilihat anak usia demikian sudah menjadi makanannya sehari hari. Memukul, berkata kotor, berteriak. Itu semua sudah sangat biasa ia cegukkan dalam pikirannya. Berkali kali ia hanya bisa menangis, sampai akhirnya saat ia menduduki kelas akhir SD dia memberanikan diri untuk melerai mereka. Dengan derai air mata yang mengurai, dia berteriak dan mengancam jika mereka melanjutkan ia akan kabirbdari rumah.
Hening, diam dan berhenti. Aku benar benar tak kuasa mendengar ceritanya. Dia memang terlihat sangat berbeda dengan teman teman lainnya. Cenderung ingin diperhatikan lebih, sungguh. Bukan karena apa, kini aku pun semakin mengerti betapa hubungan keluarga mempengaruhi perkembangan psikologi anak. Sangat berpengaruh. Dinda menjadi seorang anak yang suka cari perhatian, kurang semngat dan keras. Dia pun merasakan hal itu,  marasa sering marah jika ada secuil yang tidak pas dengannya. Aku sangat menyayangkan jika Andai para orang tua yang kurang bisa menjaga emosinya di depan anak anak, pastilah sangat berdampak fatal untuk kehidupan si anak ke depannya.

bagaimanapun pertikaian orang tua, agar lebih dikondisikan lagi dimana dan kapan waktu yang tepat. Apalagi jika hal hal yang sepele yang membuat mereka bertengkar. Okelah tidak akan menyangkal bahwa setiap rumah tangga pasti ada cek cok atau masalah yang membuat perbedaan presepsi, tapi bagaimanapun orang tua harus untuk tidak menunjukkan itu pada anak. selesaikan itu dulu di tempat yang tidak semua orang tau. Di kamar pribadi misalnya. Psikologi anak sangat berpengaruh jika sejak kecil sudah melihat hal hal yang tidak membuatnya nyaman. Bisa2 mereka mencari kenyamanan lain seain dirumah, bermain tanpa memikirkan keluarga lagi, cuek, tertutup dsb. Apa rela anak bapak ibu jadi begitu yang pada dasarnya disebabkan karena ulah kalian sendiri? Bahkan dinda, kembali ke tokoh awal, mulanya curhat ke ibunya, namun seringkali tidak dipercaya dan diabaikan. karena sudah tak lagi merasa nyaman, ia malah lari ke orang lain. Coba bayangkan, iya kalau pelariannya baik, kalau tidak? Bisa apa kita?

Sesekali mari kita mulai koreksi diri masing-masing. Apa yang menyebabkan anak demikian. Tidak nurut dan suka bangkang. Koreksi diri sendiri terlebih dahulu jika merasa a asalahnya, baru perlahan meluruskan. Sungguh cara itu adalah palping menyenangkan.
Semoga bermanfaat 😇

Malam kemarin, 21.35 am
Jombang, 19 september 2017

Saturday, 2 September 2017

Tentang nasib

Beberapa hari yang lalu, aku barusaja mengunjungi sebuah panti asuhan di sebuah desa yang tak jauh dari tempat singgahku. Ini kali pertama aku menginjakkan kaki di sana, yang sebelumnya selalu tertunda karena hal lain. Ini punnatas ketidaksengajaan temanku sebelum pulang menyempatkan untuk berkunjung ke tempat itu.

Mulanya aku biasa saja, melihat bangunannya yang cukup kekinian dengan kawasan yang lumayan luas aku biasa saja. Tak sedikitpun tergugah hatiku. Kami pun berbincang bincang sejenak dengan pengurusnya, ibu paruh baya yang klihatan muda namun ternyata sudah punya cucu. Hehehe awet muda bu, semoga besok ak juga visa begitu 😁😁. Sekedar berbagi pengetahuan tentang kawasan itu. Kemudian beliau mengizinkan kami untuk menemui anak anak panti. Karena kami cukup menyukai anak kecil, kami pun request untuk masuk ke ruang balita, dan alhamdulillah dikabulkan oleh ibu tersebut.

Seketika aku lemas ketika mendapati anak anak balita yang baru bisa jalan menuju kami, meminta untuk digendong. Aku pun segera mengiyakan keinginan salah satu dari mereka. Hatiku menjerit, sungguh dosa apa yang mereka perbuat sehingga menerima keadaan ini, hmm meski semua sudah diatur olehNya.
Lagaknya terlihat mereka kurang kasih sayang, satu masih dalam gendonganku satunya lagi nunjuk2 untuk digendong melihat suasana luar. Di ruangan itu terdapat beberapa ranjang berpagar layaknya untuk anak anak. Jelas dimaksudkan agar mereka tidak jatuh saat tidur, karena bagaimanapun pasti akan kuwalahan jika hanya beberapa orang saja yang menjaga mereka. Ruangan itu lumayan lebar, namun selalu ditutup rapat, karena takut mereka bermain yabg tidak terkontrol diluar. Aku semakin tak tega, keadaan yang tak memungkinkan, kasih sayang yang tak ada yang menggantikan.. 😞😞😞
Seketika aku semakin mensyukuri nikmatku, memiliki keluarga yang sempurna, kasih sayang yang utuh, keadaan yang baik. Begitu besar nikmat yang tak dimiliki mereka dan diberikan kepadaku. Ah Tuhan maafkan kelalaianku 😔😔😔

Friday, 11 August 2017

Seblak dan kisahnya

Siang ini aku sengaja keluar dari tempat persinggahan. Bukan maksut apa-apa sebenarnya, hanya saja aku terlanjur rapi karena mulanya ada rencana wawancara kepada seorang dosen yang kebetulan berhalangan lagi, padahal sudah janjian kedua kalinya, hemm.. Sudahlah.. Cukup terobati dengan menu seblak dan ramuan kisahnya siang ini. Hahaha 😆😁

Kekecewaanku cukup terbayar dengan adanya menu tadi. Bukan karena menu seblak saja, karena dengan cerita cerita ringan yang dituturkan oleh penjualnya. Aku memanggilnya ibu seblak. Masih muda dengan perawakan bertubuh kurus dan berkulit sawo matang. Cukup manis dengan hijabnya yang rapi, meski setiap pembeli datang ia selalu bertatap dengan kompor, wajan dan bumbu-bumbu seblaknya ia tak sedikitpun terlihat gerah dan nyaman.

Dengan harga lima ribu perak, aku sudah bisa menikmati sepiring seblak dan segelas es nutrisari. Cukup mengenyangkan dan menyenangkan duduk disana.

Mulanya aku datang dan menanyakan apakah ibu seblak yang mengirim di pondok setiap sore, ternyata bukan. Karena jika dilihat dari model kemasannya mirip sekali dengan kemasan ibu ini. Namun dengan harga yang berbeda, lima ribu oerak tanpa es. Lebih mahal daripada ini. Sembari memasakkan seblak untukku, kami pun bercerita tentang kehidupan.

Beliau adalah ibu muda, memiliki satu anak perempuan yang sekarang duduk di kelas 3 sd. Sekilas dia seperti paras ibunya, berrubuh kurus dengan kulit yang sama. Beberapa waktu suami datang dengan postur yang berbeda, lebih berisi. Pindahan dari subang jawa barat. Ibu ini asli jombang dan suami asal subang. Tinggal di subang selama 10 th dn barusaja pindah jombang dengan usaha kecil2an ini. Warung seblak.

Kembali ke percakapanku dengannya, ternyata yang mengirim seblak di pobdok adalah tetangganya sendiri yang hanya berjarak beberapa rumah dari rumah dan warung tsb. Bahkan dari cerita ibu tersebut, ia yang memberikan dengan gamblang resep untuk membuat seblak tsb kepada tetangga tersebut beberapa waktu lalu. Tanpa dia tau ternyata dia (tetangga) bersaing menjual menu sama dengan model dan bentuk yang sama persis. Hanya saja bagiku citarasanya berbeda. Aku begitu haran melihatnya menceritakan hal itu, terlihat tenang tanpa sedikitpun rasa marah. Padahal sudah terlihat jelas bahwa karyanya telah 'dicontek dan bersaing' di ranah yang sama. Bedanya ibu tetangga tadi dikrim dijual di pndok, yang dikirim setiap sore. Dan yang lebih menentramkan lagi ketika ibu seblak tersebut mengatakan bahwa rejeki sudah diatur, dengan ekspresi yang terlihat sangat menenangkan.

memang benar, semua yang ada di dunia ini adalah pelajaran. Bukan hanya di bangku sekolah atau bahkan kuliah, sekedar bercakap seperti ini saja aku jari megetahui secuil dari rentetan cerita bagaimana hidup bermasyarakat. Seberapa penting kekuatan, keberanian dan kesiapan hati untuk hidup bersama masyarakat.
Semoga dilancarkan rejeki ibu ini, semoga benar diikhlaskan hatinya, amiin 😇

Friday, 21 July 2017

konco nemu

hai blogger :D
sedang rindu menulis setelah seseorang memberiku semangat untuk memainkan jemariku lagi di atas keyboard ;p terimakasih bang .. hehe..

sudah lama sekali sepertinya aku tak lagi update coretan di halaman ini. kali ini aku hanya ingin memperkenalkan teman lama rasa baru. 
entah, hari ini aku begitu sangat merindukannya. huhuhu

dia namanya tyaa, nama lengkapnya nur fathiya.. lupa kepanjangannya. yang paling kuingat hanya panggilan akrabku padanya, 'yu ti' 

kesan pertamaku padanya, dia asik ;p
pertama kali aku mengenalnya, saat kami sama-sama menjadi santri kilat di pondok pesantren tarbiyatun nasyi'at. pondok salaf yang terletak di pelosok pedesaan pacul gowang- jombang. salah satu pesantren yang benar-benar kurasakan ketentramannya, jauh dari pencemaran udara asap kendaraan, riuhnya perkotaan. ah intinya aku benar-benar nyaman kalaitu. terang saja, aku sedang menyiapkan diriku untuk menghadapi takdir setelah lebaran kala itu. 

aku mengenalnya kala itu, dia yang selalu tampil apa adanya, friendly, seru, pendengar dan penasehat yang baik. entah, saat itu rasanya, kita senasib dan seperjuangan. sama-sama kaget dengan kebiasaan baru dan sama-sama saling menguatkan. jelas saja, aku baru pertama kali menginjakkan kaki di pesantren salaf, meski dasarnya memang keinginanku sendiri untuk menghabiskan waktu ramadhan disana, sedangkan dia, anak jurusan teknik ub yang biasa hidup di rumah seketika terpisah dengan orang tua dan tinggal di pesantren. ada suka, duka, canda, tawa yang telah kami rasakan disana. ilmu baru, harapan baru, cerita baru,rencana baru. what i feel, she feels. hahaha baper kalii..

ada hal yang menarik darinya kala itu, berbekal keingintahuan dia untuk mondok membuat dia kuat menjalani hari-harinya disana sampai waktu yang ditentukan. dengan latar belakang dia yang sangat berbeda, tentunya akan benar-benar terkejut dengan rutinitas disana. jangankan dia, aku yang biasa terpisah dengan keluarga saja shock banget. banyak hal yang kudapat dan harusnya  sedari dulu aku sadari dan syukuri. dan dia, betapa Tuhan dengan mudah menggerakkan hatinya untuk menimba ilmu di pesantren, dan tetap diistiqomahkan dalam kebaikan hingga sekarang ini.

sesekali kami pernah berjumpa, aku dijombang dia di malang. teman baru rasa lama, sesekali kami menanyakan kabar dan bercerita tentang kehidupan. aku dengan kisahku dan dia dengan kekasihnya. bahkan kemarin saat Tuhan mengizinkan aku duduk di deretan para wisudawati, dia datang bersama calon imamnya untuk memberiku selamat dan hadiah yang belum bisa kulakukan disaat dia mencapai gelarnya, huhuhu.. yutii.. maafkan aku yang belum ke malang lagi  :(

dia yang kuat, dia yang tegar, dia yang manja. hahah maafkan aku yang sedang merindumu yuu.. semoga kau baik dan selalu diberkahi olehNya.. amiin..

hemm.. karna waktu semakin siang dan tugas telah menantiku, salam rinduku untuk sampean yutii.. semoga segera berjumpa lagi dengan keseruan dan kebahagiaan yang telah kita dambakan. amiinn 
bighug from me .. hahaha. ini foto kami ketika aku ditugaskan untuk mendampingi lomba sekaligus menjenguk dan jalan-jalan bersama kesayangan. hahaha

Wednesday, 17 June 2015

1st Ramadhan

Seperti sangat lama sekali aku tak lagi menorehkan catatan kecilku disini, kali ini aku tak menceritakan sesuatu yang berat. AKu hanya ingin berbagi, bukan uang atau materi yang besar. Aku hanya ingin betbagi pengalaman. Yah, pengalaman yang begitu mendidik, tentunya teruntuk diriku yang sangat polos ini 😄
Sebagaimana tahun- tahun sebelumnya, aku menghabiskan bulan ramadhanku bersama teman teman perantauan. Kali ini berbeda, Teman sepermainanku tak bersama mereka yang seumuran denganku, Karena usia mereka jauh dibawahku, ya lebih terkesan paling tua. Hahaha
Ramadhan pertama bersama anak anak CAFKE 😃
Berbagai hal telah kudapatkan dengan kebersamaan bersama mereka. Mereka yang manja, mereka yang riang, mereka yang ceria.
Memang, kami berasal dari latar belakang yang berbeda. Ada yang dari keluarga terpandang, kaya raya, yang sederhana, dan bahkan pas pasan. Yah, kami bersatu dan hidup dilingkungan yang sama.
Yang membedakan denganku hanya satu, faktor Usia.
Usiaku dengan mereka memang cukup jauh. Sekitar 7 tahun jarak diantara kami.
Mulanya aku seperti sangat sulit hidup bersama mereka, jujur saja, dengan adikku yang bahkan jaraknya hanya 3 tahun saja aku sering bertengkar, apalagi dengan usia yang jaraknya semakin jauh??
Aku mau, hanya karena aku tak mau mengelak kepada orang tuaku, dengan segenap hati aku pun mulai hidup diantara mereka.
Namun, seiring berjalannya waktu, aku semakin tahu dan faham, bahwa usia takkan menentukan kenyamanan hidup seseorang. Bersama mereka aku mwndapatkan kenyamanan tersendiri. Seperti hadir ikatan keluarga diantara kami. Sesekali mereka berbohong, merwka akan dengan sendirinya meminta maaf. Begitipun denganku, ketika aku mulai menghabiakan waktuku diluar, aku merindukan mereka. Dan aku pun akhirnya levih betah dikamar drpda harus lama lama mebinggalkan mereka.

aku hanya ingin satu hal. M

Friday, 10 April 2015

Aneh=> part 1

Mata itu begitu menggelitikku.  Tatapannya yang tajam seakan tengah menyusun pasukannya untuk segera menyerangku, aku takut sungguh. Begitupun dengan ruangan ini, seperti ruangan yang kedap suara. Bagaimana tidak? Diskotik yang terletak disampingnya pun seolah membisu. Padahal jika sudah di ujung pintu diakotik itu, tak semua telinga akan siap mendengar lantunan musiknya yang tak wajar, sungguh amat keras. Sejujurnya aku sangat berat untuk bertahan menatap mata itu. Sangat tajam, menyayat. Andai saja aku diizinkan untuk singgah ke tempat lain sejenak, maka aku akan meninggalkan tempat ini beserta apapun yang terdapat di dalamnya. Tentu tak lepas dari tatapan mata itu. Namun, Ahh mustahil.
"Sudah berapa lama kamu menungguku? " ucapnya kemudian,
"Setengah jam yang lalu" jawabku singkat. Sebenarnya aku ingin memanggil dengan sebutan yang tepat untuk lelaki itu, tapi apalah, aku pun belum juga menemukan panggilan yang tepat untuknya.
"Apa kamu sudah siap? " seketika jantungku berdegup kencang, tatapan mata itu kembali menatap mataku. Anak matanya yang hitam pekat seketika menusuk salah satu jantungku yang sedang berdegup kencang. Andai saja aku bisa membayangkan sebelumnya. Aaah aku terlalu lugu untuk memikirkan hal-hal yang tak terfikirkan sebelumnya. Dadaku tak kunjung menbaik setelah ia menanyakan kesiapanku. Sebenarnya apa yang akan terjadi dengan malamku??
*to be continue

Thursday, 29 January 2015

Praktikum -nganjuk

Setelah menerima berbagai materi tentang pengadilan agama di kampus, akhirnya dikembangkan dengan terjun lapangan langsung yang bertempat di pengadilan agama nganjuk 
Terimakasih pak, bu, yang telah mengajarkan berbagai pengetahuan baru kepada kami, sehingga kami bisa mengerti lebih jauh tentang dunia pengadilan agama, teruntuk teman teman praktikum, terima kasih juga atas pengalamannya.. 

Monday, 24 November 2014

Dibalik Fenomena Bencana Alam


Sejak pembukaan tahun 2014 ini, sudah berapa kali diberitakan bencana alam dari berbagai penjuru tanah air Indonesia? Seluruh awak media mungkin atau bahkan sudah kenyang dengan berbagai informasi tentang keadaan alam kita yang semakin menua ini. Bermula gunung meletus sinabung, banjir ibukota, tanah longsor jombang, dan yang baru saja kita dengar adalah gunung kelud yang meletus dengan ketinggian laha mencapai 17.000 m. dampak yang ditimbulkan pun tentunya tidak sedikit jumlahnya baik dari korban yang meninggal sampai kerugian dari segi  materinya. Dalam hal ini tentunya tak satupun mau dirugikan, tak ayal jika  semua penjuru negara mengelak untuk dijadikan penyebab bencana tersebut.
         Sebagai manusia yang sewajarnya, tentunya membela diri sendiri itu merupakan suatu hal yang signifikan bagi setiap individu. Begitupun dengan mengelak bahwa kita sebagai penghuni belahan dunia ini tidak mungkin bagi kita untuk merusak alam yang kita tempati ini. Namun semua itu hanya ilusi semata. Sadar atau tidak, manusia sendirilah yang mengakibatkan semakin tuanya alam Indonesia ini sehingga dapat kita rasakan dampak bencana yang timbul akibat ketidak sadaran kita ini.
Bahkan dalam al-quran disebutkan bahwasannya “telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar ” (QS. Ar-Ruum:41). Hal ini menekankan bahwasannya kerusakan yang terjadi di alam ini tak lain juga karena perbuatan manusia yang salah. Dan Tuhan memberikan dampak yang bisa kita rasakan sekarang ini sebagai pelajaran akibat ulah manusia dan agar manusia kembali pada jalan yang benar, yakni kembali membumikan prilaku yang ramah lingkungan.

Sunday, 23 November 2014

bergantung kepada orang tua? masalah besar!


Mengikuti anjuran orang tua seperti sudah menjadi pilihan yang tidak bisa diganggu gugat dalam skenario hidup ini. hal ini terlihat ketika seorang anak mulai menduduki bangku sekolah. tentunya mulai dari situ pula orang tua telah merancang berbagai strategi yang harus dijalani oleh anak tersebut untuk ke depannya. seperti, sekolah mana dan pendidikan apa yang akan dipelajari oleh anaknya, baik dari segi spiritual, exsact, atau bahkan ekstrakulikuler pun juga dirancang sedemikian rapi. padahal belum tentu bakat anak sesuai dengan apa yang telah dirancang oleh orang tua tersebut.
Perlu mereka ketahui bahwa tidak semua anak dapat dengan cuma- cuma menganut anjuran orang tua. ada yang ingin mengembangkan bakatnya yang ternyata baru diketahuinya di usia remaja, ada juga yang dengan pasrah tetap tunduk  pada garis yang sudah dirumuskan oleh orang tuanya. hal ini membuktikan bahwa kemampuan setiap anak itu tidak sama.

Tuesday, 18 November 2014

Cerpen: Secangkir Kopi Hitam :)


Lalu lalang kendaraan melintasi jalan raya yang kian hari semakin meretak, rapuh. Jalan raya tua yang sudah tak dihiraukan lagi oleh pemerintah untuk diperbaiki. Konon katanya jalan raya ini mempunyai sejarah yang buruk dan mengerikan. Banyak tragedi kecelakaan dan berakhir kematian yang mengerikan, oleh sebab itu tak banyak khalayak yang memilih untuk melewati jalan itu. Namun hal ini tidak berlaku  bagi para penikmat minuman berkafein. Ternyata tak sedikit dari mereka memilih untuk melintasi jalan raya itu demi segelas atau bahkan seseruput minuman hitam yang mengandung serbuk kopi itu. Entah kenikmatan apa yang membuat mereka rela antri untuk mendapatkan semua itu. Apalagi saat putung- putung rokok berserakan di setiap asbak yang terdapat di meja ruangan itu dan berbagai aroma tak sedap yang seringkali membuat tak nyaman dan yang menjadikan tanda tanya besar bagiku tentang kenikmatan apa yang di dapat hingga harus mengorbankan hidung dengan udara tak sehat itu.
Kafe Semerbak, begitulah orang-orang menyebutnya. Mungkin dari aroma- aroma yang tak bisa terdeteksi itu yang menjadikan nama tersebut semakin tercium oleh semua kalangan baik dari tingkat menengah kebawah sampai kalangan paling atas di seluruh penjuru Negara, seolah tak ada yang tak mencium aroma semerbak kafe itu. Tak hanya itu, desas desus yang membawa nama kafe itu pun selalu terdengar dari setiap lisan para khalayak. Yah, tentunya itu yang menjadikan nama kafe ini semakin melejit.
Semakin hari tak dapat celah lagi yang bisa kuintai dari lubang-lubang kecil terbuat dari semen di sebelah tempat itu. Semakin banyak pendatang yang memadati bangunan klasik yang dipenuhi kaca buram nan hitam. Kadang terbesit sebuah kenangan yang tragis hingga aku berkali-kali menahan diriku untuk melakukan itu. Yah, keinginanku hanya satu. Ingin memusnahkan semerbak itu. Semerbak yang tak lagi merusak hidung, bahkan merusak otak dan hati para pendatang.
“Maria, cepat masuk rumah”

Refleksi: Me‘nanti’ yang Memilukan

Bukan sebuah penantian pajang yang menjadikan seseorang semakin pilu, pemakaian kata ‘nanti’ lah yang memilukan setiap orang. Sungguh mudah diucapkan dan amat diyakini tidak akan berakibat fatal di kemudian hari.  Padahal, itu adalah dosa besar!
                Saat menemukan suatu ide untuk ditulis misalnya, ketika hendak menuju kantin, tiba- tiba ide itu muncul tanpa disengaja. “ah, nanti sajalah sekalian buka laptop” Dalam hati pun ingin mencatat tapi karena sudah didahului dengan kalimat nanti, kata ringan yang mudah sekali diucapkan.  walhasil apa yang diinginkan pun akhirnya  tidak tecatat. Yang amat disayangkan, ketika sudah dikejar deadline, dan ternyata ide tersebut sudah memudar, maka galau- lah sudah. Inilah yang sering dialami oleh para penulis pemula.
                Sedangkan yang biasa dialami oleh mahasiswa pun demikian, seolah- olah kata ‘nanti’ tersebut akan seketika mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk.

Monday, 1 September 2014

Energi Keluarga :)


Memiliki keluarga yang harmonis merupakan keinginan setiap insan di dunia ini, salah satu alasannya adalah memberikan kenyamanan tersendiri bagi setiap anggota keluarga. Karena dengan kenyamanan tersebut akan menjadikan energy tersendiri untuk menjalankan kehidupan yang telah diberikan oleh sang kuasa.
Yang paling kiri adalah sosok ayah yang selalu menjadi idolaku. Meski bagi teman- teman SDku dulu beliau adalah sosok yang berwatak keras, tetapi bagiku ia adalah ayah yang sangat tepat menjadi panutan. Watak kerasnya mendidikku untuk bisa bersikap tegas dalam menentukan suatu keputusan, tentunya dengan suatu komitmen yang tegas sehingga menjadikanku sedemikian ini.
Sisi lain yang bisa aku ambil dari sosok ayahku adalah ketaatannya kepada yang kuasa. Meski beliau hanya sempat menempati pesantren selama beberapa tahun saja, namun segala hal yang pernah beliau pelajari seperti sudah mendarah daging pada dirinya. Walhasil aku beserta adikku yang berdiri di sebelah beliau dianjurkan untuk menimba ilmu di pesantren.
Sebelah ayahku, adalah adik laki-laki pertamaku. Meski statusnya sebagai adik, kadang ia bahkan seperti kakakku. Mempunyai adik seperti dia merupakan pelengkap yang sempurna. Seringkali kami berdiskusi tentang masa depan kami, berandai- andai dengan segudang harapan kami untuk membahagiakan orang tua kami.

Tuesday, 14 January 2014

KOLEKTIVITAS UNTUK BANGSA


Miris sekali setelah mengetahui informasi yang telah menggambarkan bobroknya moral bangsa tercinta ini. Bagaimana tidak? Data akhir tahun yang dihimpun komisi nasional Perlindungan Anak (komnas PA) menunjukkan angka memprihatinkan. Sebanyak 82 pelajar tewas sepanjang 2012 dari 147 kasus tawuran, yang pada tahun sebelumnya terdapat 128 kasus. meningkatnya kasus tawuran yang telah terjadi pada generasi bangsa tersebut merupakan PR kita bersama demi kamajuan bangsa karena  kelak mereka  akan menjadi pewaris bangsa seutuhnya. Bagaimana keadaan Indonesia di tahun 2020 jika para penerus mempunyai moral yang sangat minim, tak lagi menyukai kebersamaan dan kedamaian? Sedikit atau banyak pasti terbesit dalam benak kita gambaran bagaimana kondisi bangsa saat itu. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat untuk mencari ilmu akan berubah menjadi ajang permusuhan bagi setiap siswa, baik dalam lingkup sekolah maupun luar sekolah, yang seharusnya merasa nyaman dan aman malah merasa khawatir apakah pulang sekolah nanti ia akan tetap hidup atau terkapar lemah di jalan  akibat tawuran.
Fenomena sepeti ini jelas bertentangan dengan cita- cita bangsa. Sebagaimana tercantum dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional pada pasal 3. Yang di dalamnya menyebutkan “mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa  Negara, berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi  manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis, serta bertanggung jawab”.