Perempuan muda Berusia 23 th. Pendamping dan teman curhat anak anak Penerus perjuangan Ulama. Masih belajar memahami kehidupan :)
Sunday, 24 September 2017
Tentang kalian 😘
Friday, 22 September 2017
Pecinta pemilik ilmu
Siang ini aku barusaja bertemu dengan beliau, dosen favoritku. Hhhaha
Bukan karena apa, karena beliau benar- benar membuatku kagum. Cerdas dan ulet. Hafidz dan dosen s2 di kampusku. Hwahaha. Im pround of you pak mas 😍
"ojo wedi, podo menungsone. Sing penting sinau" begitu beliau mengajariku selama membimbingku dalam menyelesaikan skripsiku. Dan sekarang sedang menempung jenjang s3.
Ah bapaak, 😍😍😍
Entah apa yang membuatku tenang ketika melihat beliau. Ilmunya seabrek tapi masih saja terlihat sederhana. Istrinya spesial mengurus rumah tangga dan mengajar pengajian anak anak di rumahnya. Dan beliau mengajar di almamaternya dulu dan menyimak hafalan santri pondok lamanya. Dan sebagai dosen di kampusku. Beliau dikarunia dua putra yang keduanya terlihat mengikuti jejak ayahnya.
Terlihat sekali, sopan santun antara keluarga tersebut, sepertinya sedari kecil mereka (red. Pak dosen dan istri) selalu mengajari bertata krama dengan sesamanya. Tutur katanya santun dan sopan. Tidak jarang menggunakan bahasa krama sebagaimana orangtua bertutur. Pun ketika pak dosen bersama dengan mahasiswanya, sesekali berbahasa krama,
ah entah aku sedang sangat terkesima dengan kehidupan beliau. Yang kufikirkan hanya satu, bagaimana perjuangan mereka ketika membentuk anak yang demikian? Dan keliarga yang terlihat sangat menghargai satu sama lain.
Teringat ketika istri pak dosen bercerita tentang beliau, (red.pak dosen). Setiap kali pak dosen mendapat ilmu baru, beliau akan berbagi dengan istrinya. Tak ayal, jika tanpa sekolah s2 pun sang istri dapat menikmati keluasan ilmu melalui suaminya. Bolehlah jika mendambakan keluarga yang demikian 😆😆
Saya merawat anak anak, suami belajar dan bekerja. Jika ada yang baru diketahui, suami berbagi kepada istri. Dududuh, mulai ngantuk kali, mulai mengigau kemana mana 😂😂
Sudah dulu ya guys, kapan kapan kalo ketemu beliau aku ceritain lagi. Hihi
Wednesday, 20 September 2017
Aku dan hujan bulan juni
Mau banget kok kalo ada yang beliin
Jeritan hati anak manusia
Hari ini ada seorang anak yang membuntutiku. Seperti biasa, pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan. Ada apa nak? Sapaku. Lalu dia mengambil posisi untuk duduk di dekatku, tak lama kemudian ia mulai bercerita.
Mulanya ia hanya ingin mengeluhkan tentang keadaannya, namun kemudian merambat kepada keluarganya. Ya orang tua.
Aku sejenak menyayangkan ketika orang tua ayah ibu saling tidak memperhatikan anaknya ketika terjadi cek cok diantara mereka. Bagiku memang seperti cenderung egois. Memikirkan diri mereka sendiri. Ah, maaf jika ini terlalu menjugje orangtua atau sok dan bagaimana. Karena disini aku benar benar duduk di posisi pendengar mereka. Anak anak korban pertengkaran orang tua yang tak bersalah.
Dia seketika menangis saat aku mulai menyimak ceritanya. Dia anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya bekerja yang hanya pulang dua minggu sekali, sedangkan sang ibu mengisi waktu luang dengan menjual barang via online.
Ketika masih menduduki tingkat SD, sebut saja dinda. Dinda seringkali menangis saat mendapati ayah ibunya bertengkar di hadapannya. Tepat. Bahkan beberapa tindakan yang tidak layak untuk dilihat anak usia demikian sudah menjadi makanannya sehari hari. Memukul, berkata kotor, berteriak. Itu semua sudah sangat biasa ia cegukkan dalam pikirannya. Berkali kali ia hanya bisa menangis, sampai akhirnya saat ia menduduki kelas akhir SD dia memberanikan diri untuk melerai mereka. Dengan derai air mata yang mengurai, dia berteriak dan mengancam jika mereka melanjutkan ia akan kabirbdari rumah.
Hening, diam dan berhenti. Aku benar benar tak kuasa mendengar ceritanya. Dia memang terlihat sangat berbeda dengan teman teman lainnya. Cenderung ingin diperhatikan lebih, sungguh. Bukan karena apa, kini aku pun semakin mengerti betapa hubungan keluarga mempengaruhi perkembangan psikologi anak. Sangat berpengaruh. Dinda menjadi seorang anak yang suka cari perhatian, kurang semngat dan keras. Dia pun merasakan hal itu, marasa sering marah jika ada secuil yang tidak pas dengannya. Aku sangat menyayangkan jika Andai para orang tua yang kurang bisa menjaga emosinya di depan anak anak, pastilah sangat berdampak fatal untuk kehidupan si anak ke depannya.
bagaimanapun pertikaian orang tua, agar lebih dikondisikan lagi dimana dan kapan waktu yang tepat. Apalagi jika hal hal yang sepele yang membuat mereka bertengkar. Okelah tidak akan menyangkal bahwa setiap rumah tangga pasti ada cek cok atau masalah yang membuat perbedaan presepsi, tapi bagaimanapun orang tua harus untuk tidak menunjukkan itu pada anak. selesaikan itu dulu di tempat yang tidak semua orang tau. Di kamar pribadi misalnya. Psikologi anak sangat berpengaruh jika sejak kecil sudah melihat hal hal yang tidak membuatnya nyaman. Bisa2 mereka mencari kenyamanan lain seain dirumah, bermain tanpa memikirkan keluarga lagi, cuek, tertutup dsb. Apa rela anak bapak ibu jadi begitu yang pada dasarnya disebabkan karena ulah kalian sendiri? Bahkan dinda, kembali ke tokoh awal, mulanya curhat ke ibunya, namun seringkali tidak dipercaya dan diabaikan. karena sudah tak lagi merasa nyaman, ia malah lari ke orang lain. Coba bayangkan, iya kalau pelariannya baik, kalau tidak? Bisa apa kita?
Sesekali mari kita mulai koreksi diri masing-masing. Apa yang menyebabkan anak demikian. Tidak nurut dan suka bangkang. Koreksi diri sendiri terlebih dahulu jika merasa a asalahnya, baru perlahan meluruskan. Sungguh cara itu adalah palping menyenangkan.
Semoga bermanfaat 😇
Malam kemarin, 21.35 am
Jombang, 19 september 2017
Saturday, 2 September 2017
Tentang nasib
Beberapa hari yang lalu, aku barusaja mengunjungi sebuah panti asuhan di sebuah desa yang tak jauh dari tempat singgahku. Ini kali pertama aku menginjakkan kaki di sana, yang sebelumnya selalu tertunda karena hal lain. Ini punnatas ketidaksengajaan temanku sebelum pulang menyempatkan untuk berkunjung ke tempat itu.
Mulanya aku biasa saja, melihat bangunannya yang cukup kekinian dengan kawasan yang lumayan luas aku biasa saja. Tak sedikitpun tergugah hatiku. Kami pun berbincang bincang sejenak dengan pengurusnya, ibu paruh baya yang klihatan muda namun ternyata sudah punya cucu. Hehehe awet muda bu, semoga besok ak juga visa begitu 😁😁. Sekedar berbagi pengetahuan tentang kawasan itu. Kemudian beliau mengizinkan kami untuk menemui anak anak panti. Karena kami cukup menyukai anak kecil, kami pun request untuk masuk ke ruang balita, dan alhamdulillah dikabulkan oleh ibu tersebut.
Seketika aku lemas ketika mendapati anak anak balita yang baru bisa jalan menuju kami, meminta untuk digendong. Aku pun segera mengiyakan keinginan salah satu dari mereka. Hatiku menjerit, sungguh dosa apa yang mereka perbuat sehingga menerima keadaan ini, hmm meski semua sudah diatur olehNya.
Lagaknya terlihat mereka kurang kasih sayang, satu masih dalam gendonganku satunya lagi nunjuk2 untuk digendong melihat suasana luar. Di ruangan itu terdapat beberapa ranjang berpagar layaknya untuk anak anak. Jelas dimaksudkan agar mereka tidak jatuh saat tidur, karena bagaimanapun pasti akan kuwalahan jika hanya beberapa orang saja yang menjaga mereka. Ruangan itu lumayan lebar, namun selalu ditutup rapat, karena takut mereka bermain yabg tidak terkontrol diluar. Aku semakin tak tega, keadaan yang tak memungkinkan, kasih sayang yang tak ada yang menggantikan.. 😞😞😞
Seketika aku semakin mensyukuri nikmatku, memiliki keluarga yang sempurna, kasih sayang yang utuh, keadaan yang baik. Begitu besar nikmat yang tak dimiliki mereka dan diberikan kepadaku. Ah Tuhan maafkan kelalaianku 😔😔😔
Friday, 11 August 2017
Seblak dan kisahnya
Siang ini aku sengaja keluar dari tempat persinggahan. Bukan maksut apa-apa sebenarnya, hanya saja aku terlanjur rapi karena mulanya ada rencana wawancara kepada seorang dosen yang kebetulan berhalangan lagi, padahal sudah janjian kedua kalinya, hemm.. Sudahlah.. Cukup terobati dengan menu seblak dan ramuan kisahnya siang ini. Hahaha 😆😁
Kekecewaanku cukup terbayar dengan adanya menu tadi. Bukan karena menu seblak saja, karena dengan cerita cerita ringan yang dituturkan oleh penjualnya. Aku memanggilnya ibu seblak. Masih muda dengan perawakan bertubuh kurus dan berkulit sawo matang. Cukup manis dengan hijabnya yang rapi, meski setiap pembeli datang ia selalu bertatap dengan kompor, wajan dan bumbu-bumbu seblaknya ia tak sedikitpun terlihat gerah dan nyaman.
Dengan harga lima ribu perak, aku sudah bisa menikmati sepiring seblak dan segelas es nutrisari. Cukup mengenyangkan dan menyenangkan duduk disana.
Mulanya aku datang dan menanyakan apakah ibu seblak yang mengirim di pondok setiap sore, ternyata bukan. Karena jika dilihat dari model kemasannya mirip sekali dengan kemasan ibu ini. Namun dengan harga yang berbeda, lima ribu oerak tanpa es. Lebih mahal daripada ini. Sembari memasakkan seblak untukku, kami pun bercerita tentang kehidupan.
Beliau adalah ibu muda, memiliki satu anak perempuan yang sekarang duduk di kelas 3 sd. Sekilas dia seperti paras ibunya, berrubuh kurus dengan kulit yang sama. Beberapa waktu suami datang dengan postur yang berbeda, lebih berisi. Pindahan dari subang jawa barat. Ibu ini asli jombang dan suami asal subang. Tinggal di subang selama 10 th dn barusaja pindah jombang dengan usaha kecil2an ini. Warung seblak.
Kembali ke percakapanku dengannya, ternyata yang mengirim seblak di pobdok adalah tetangganya sendiri yang hanya berjarak beberapa rumah dari rumah dan warung tsb. Bahkan dari cerita ibu tersebut, ia yang memberikan dengan gamblang resep untuk membuat seblak tsb kepada tetangga tersebut beberapa waktu lalu. Tanpa dia tau ternyata dia (tetangga) bersaing menjual menu sama dengan model dan bentuk yang sama persis. Hanya saja bagiku citarasanya berbeda. Aku begitu haran melihatnya menceritakan hal itu, terlihat tenang tanpa sedikitpun rasa marah. Padahal sudah terlihat jelas bahwa karyanya telah 'dicontek dan bersaing' di ranah yang sama. Bedanya ibu tetangga tadi dikrim dijual di pndok, yang dikirim setiap sore. Dan yang lebih menentramkan lagi ketika ibu seblak tersebut mengatakan bahwa rejeki sudah diatur, dengan ekspresi yang terlihat sangat menenangkan.
memang benar, semua yang ada di dunia ini adalah pelajaran. Bukan hanya di bangku sekolah atau bahkan kuliah, sekedar bercakap seperti ini saja aku jari megetahui secuil dari rentetan cerita bagaimana hidup bermasyarakat. Seberapa penting kekuatan, keberanian dan kesiapan hati untuk hidup bersama masyarakat.
Semoga dilancarkan rejeki ibu ini, semoga benar diikhlaskan hatinya, amiin 😇


