Mata itu begitu menggelitikku. Tatapannya yang tajam seakan tengah menyusun pasukannya untuk segera menyerangku, aku takut sungguh. Begitupun dengan ruangan ini, seperti ruangan yang kedap suara. Bagaimana tidak? Diskotik yang terletak disampingnya pun seolah membisu. Padahal jika sudah di ujung pintu diakotik itu, tak semua telinga akan siap mendengar lantunan musiknya yang tak wajar, sungguh amat keras. Sejujurnya aku sangat berat untuk bertahan menatap mata itu. Sangat tajam, menyayat. Andai saja aku diizinkan untuk singgah ke tempat lain sejenak, maka aku akan meninggalkan tempat ini beserta apapun yang terdapat di dalamnya. Tentu tak lepas dari tatapan mata itu. Namun, Ahh mustahil.
"Sudah berapa lama kamu menungguku? " ucapnya kemudian,
"Setengah jam yang lalu" jawabku singkat. Sebenarnya aku ingin memanggil dengan sebutan yang tepat untuk lelaki itu, tapi apalah, aku pun belum juga menemukan panggilan yang tepat untuknya.
"Apa kamu sudah siap? " seketika jantungku berdegup kencang, tatapan mata itu kembali menatap mataku. Anak matanya yang hitam pekat seketika menusuk salah satu jantungku yang sedang berdegup kencang. Andai saja aku bisa membayangkan sebelumnya. Aaah aku terlalu lugu untuk memikirkan hal-hal yang tak terfikirkan sebelumnya. Dadaku tak kunjung menbaik setelah ia menanyakan kesiapanku. Sebenarnya apa yang akan terjadi dengan malamku??
*to be continue
Perempuan muda Berusia 23 th. Pendamping dan teman curhat anak anak Penerus perjuangan Ulama. Masih belajar memahami kehidupan :)
Friday, 10 April 2015
Aneh=> part 1
Thursday, 29 January 2015
Praktikum -nganjuk
Setelah menerima berbagai materi tentang pengadilan agama di kampus, akhirnya dikembangkan dengan terjun lapangan langsung yang bertempat di pengadilan agama nganjuk
Terimakasih pak, bu, yang telah mengajarkan berbagai pengetahuan baru kepada kami, sehingga kami bisa mengerti lebih jauh tentang dunia pengadilan agama, teruntuk teman teman praktikum, terima kasih juga atas pengalamannya..
Terimakasih pak, bu, yang telah mengajarkan berbagai pengetahuan baru kepada kami, sehingga kami bisa mengerti lebih jauh tentang dunia pengadilan agama, teruntuk teman teman praktikum, terima kasih juga atas pengalamannya..
Monday, 24 November 2014
Dibalik Fenomena Bencana Alam
Sejak pembukaan tahun 2014 ini, sudah berapa
kali diberitakan bencana alam dari berbagai penjuru tanah air Indonesia?
Seluruh awak media mungkin atau bahkan sudah kenyang dengan berbagai informasi
tentang keadaan alam kita yang semakin menua ini. Bermula gunung meletus
sinabung, banjir ibukota, tanah longsor jombang, dan yang baru saja kita dengar
adalah gunung kelud yang meletus dengan ketinggian laha mencapai 17.000 m.
dampak yang ditimbulkan pun tentunya tidak sedikit jumlahnya baik dari korban
yang meninggal sampai kerugian dari segi
materinya. Dalam hal ini tentunya tak satupun mau dirugikan, tak ayal
jika semua penjuru negara mengelak untuk
dijadikan penyebab bencana tersebut.
Sebagai
manusia yang sewajarnya, tentunya membela diri sendiri itu merupakan suatu hal yang signifikan
bagi setiap individu. Begitupun dengan mengelak bahwa kita sebagai penghuni
belahan dunia ini tidak mungkin bagi kita untuk merusak alam yang kita tempati
ini. Namun semua itu hanya ilusi semata. Sadar atau tidak, manusia sendirilah
yang mengakibatkan semakin tuanya alam Indonesia ini sehingga dapat kita
rasakan dampak bencana yang timbul akibat ketidak sadaran kita ini.
Bahkan dalam al-quran disebutkan bahwasannya
“telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan
mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar ” (QS. Ar-Ruum:41). Hal ini
menekankan bahwasannya kerusakan yang terjadi di alam ini tak lain juga karena
perbuatan manusia yang salah. Dan Tuhan memberikan dampak yang bisa kita
rasakan sekarang ini sebagai pelajaran akibat ulah manusia dan agar manusia
kembali pada jalan yang benar, yakni kembali membumikan prilaku yang ramah
lingkungan.
Sunday, 23 November 2014
bergantung kepada orang tua? masalah besar!
Mengikuti anjuran orang tua seperti sudah menjadi pilihan yang
tidak bisa diganggu gugat dalam skenario hidup ini. hal ini terlihat ketika
seorang anak mulai menduduki bangku sekolah. tentunya mulai dari situ pula
orang tua telah merancang berbagai strategi yang harus dijalani oleh anak
tersebut untuk ke depannya. seperti, sekolah mana dan pendidikan apa yang akan
dipelajari oleh anaknya, baik dari segi spiritual, exsact, atau bahkan
ekstrakulikuler pun juga dirancang sedemikian rapi. padahal belum tentu bakat
anak sesuai dengan apa yang telah dirancang oleh orang tua tersebut.
Perlu mereka ketahui bahwa tidak semua anak dapat dengan cuma-
cuma menganut anjuran orang tua. ada yang ingin mengembangkan bakatnya yang
ternyata baru diketahuinya di usia remaja, ada juga yang dengan pasrah tetap
tunduk pada garis yang sudah dirumuskan oleh orang tuanya. hal ini
membuktikan bahwa kemampuan setiap anak itu tidak sama.
Tuesday, 18 November 2014
Cerpen: Secangkir Kopi Hitam :)
Lalu lalang kendaraan
melintasi jalan raya yang kian hari semakin meretak, rapuh. Jalan raya tua yang
sudah tak dihiraukan lagi oleh pemerintah untuk diperbaiki. Konon katanya jalan
raya ini mempunyai sejarah yang buruk dan mengerikan. Banyak tragedi kecelakaan
dan berakhir kematian yang mengerikan, oleh sebab itu tak banyak khalayak yang
memilih untuk melewati jalan itu. Namun hal ini tidak berlaku bagi para
penikmat minuman berkafein. Ternyata tak sedikit dari mereka memilih untuk
melintasi jalan raya itu demi segelas atau bahkan seseruput minuman hitam yang
mengandung serbuk kopi itu. Entah kenikmatan apa yang membuat mereka rela antri
untuk mendapatkan semua itu. Apalagi saat putung- putung rokok berserakan di
setiap asbak yang terdapat di meja ruangan itu dan berbagai aroma tak sedap
yang seringkali membuat tak nyaman dan yang menjadikan tanda tanya besar bagiku
tentang kenikmatan apa yang di dapat hingga harus mengorbankan hidung dengan
udara tak sehat itu.
Kafe Semerbak, begitulah
orang-orang menyebutnya. Mungkin dari aroma- aroma yang tak bisa terdeteksi itu
yang menjadikan nama tersebut semakin tercium oleh semua kalangan baik dari
tingkat menengah kebawah sampai kalangan paling atas di seluruh penjuru Negara,
seolah tak ada yang tak mencium aroma semerbak kafe itu. Tak hanya itu, desas
desus yang membawa nama kafe itu pun selalu terdengar dari setiap lisan para
khalayak. Yah, tentunya itu yang menjadikan nama kafe ini semakin melejit.
Semakin hari tak dapat
celah lagi yang bisa kuintai dari lubang-lubang kecil terbuat dari semen di
sebelah tempat itu. Semakin banyak pendatang yang memadati bangunan klasik yang
dipenuhi kaca buram nan hitam. Kadang terbesit sebuah kenangan yang tragis
hingga aku berkali-kali menahan diriku untuk melakukan itu. Yah, keinginanku
hanya satu. Ingin memusnahkan semerbak itu. Semerbak yang tak lagi merusak
hidung, bahkan merusak otak dan hati para pendatang.
“Maria, cepat masuk rumah”
Labels:
Cerpen
Refleksi: Me‘nanti’ yang Memilukan
Bukan sebuah
penantian pajang yang menjadikan seseorang semakin pilu, pemakaian kata ‘nanti’
lah yang memilukan setiap orang. Sungguh mudah diucapkan dan amat diyakini
tidak akan berakibat fatal di kemudian hari. Padahal, itu adalah dosa besar!
Saat menemukan suatu ide untuk
ditulis misalnya, ketika hendak menuju kantin, tiba- tiba ide itu muncul tanpa
disengaja. “ah, nanti sajalah sekalian buka laptop” Dalam hati pun ingin
mencatat tapi karena sudah didahului dengan kalimat nanti, kata ringan yang
mudah sekali diucapkan. walhasil apa
yang diinginkan pun akhirnya tidak
tecatat. Yang amat disayangkan, ketika sudah dikejar deadline, dan ternyata ide
tersebut sudah memudar, maka galau- lah sudah. Inilah yang sering dialami oleh
para penulis pemula.
Sedangkan yang biasa dialami
oleh mahasiswa pun demikian, seolah- olah kata ‘nanti’ tersebut akan seketika
mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk.
Labels:
Refleksi
Monday, 1 September 2014
Energi Keluarga :)
Memiliki
keluarga yang harmonis merupakan keinginan setiap insan di dunia ini, salah
satu alasannya adalah memberikan kenyamanan tersendiri bagi setiap anggota
keluarga. Karena dengan kenyamanan tersebut akan menjadikan energy tersendiri
untuk menjalankan kehidupan yang telah diberikan oleh sang kuasa.
Yang paling kiri
adalah sosok ayah yang selalu menjadi idolaku. Meski bagi teman- teman SDku
dulu beliau adalah sosok yang berwatak keras, tetapi bagiku ia adalah ayah yang
sangat tepat menjadi panutan. Watak kerasnya mendidikku untuk bisa bersikap
tegas dalam menentukan suatu keputusan, tentunya dengan suatu komitmen yang
tegas sehingga menjadikanku sedemikian ini.
Sisi lain yang
bisa aku ambil dari sosok ayahku adalah ketaatannya kepada yang kuasa. Meski
beliau hanya sempat menempati pesantren selama beberapa tahun saja, namun
segala hal yang pernah beliau pelajari seperti sudah mendarah daging pada
dirinya. Walhasil aku beserta adikku yang berdiri di sebelah beliau dianjurkan
untuk menimba ilmu di pesantren.
Sebelah ayahku,
adalah adik laki-laki pertamaku. Meski statusnya sebagai adik, kadang ia bahkan
seperti kakakku. Mempunyai adik seperti dia merupakan pelengkap yang sempurna.
Seringkali kami berdiskusi tentang masa depan kami, berandai- andai dengan
segudang harapan kami untuk membahagiakan orang tua kami.
Subscribe to:
Comments (Atom)

.jpg)
.jpg)
